Text
The Crossing Of Ingo
April sudah mau berakhir namun reading slump-ku sepertinya kambuh. Sulit memulai membaca buku baru. Entah karena apa. The Crossing of Ingo ini saja sudah kumulai sejak akhir Maret dan baru awal April bisa kuselesaikan. Lalu setelah itu, hening. Tidak ada lagi buku yang kuselesaikan di April ini. Hmm, entahlah. Semoga dengan memulai mencicil tunggakan review yang ada bisa membantuku mengatasi reading slump ini.
Baiklah, kembali mengingat awal mula membawa pulang buku atau lebih tepatnya serial ini. Saat itu akhir tahun dan pelataran parkir Gramedia penuh tumpukan buku diskon. Sulit sekali untuk menghindarinya dan aku pun mulai kalap. Di malam itu aku membeli banyak buku dan salah satunya adalah tetralogi Ingo. Lengkap, full series. Aku tidak tahu harga awal tetralogi yang terbit tahun 2013 yang kupegang ini. Yang jelas saat itu harga per bukunya hanya goceng a.k.a. lima ribu saja. Syukurlah semua buku dalam tetralogi tersebut lengkap. Aku pun suka dengan jalinan kisahnya saat membaca blurb-nya. So, why not? Aku pun membawa semuanya ke kasir.
Sebagai penyuka kisah fantasi, dan kaver unyu (terutama kaver buku pertamanya), aku berharap sedikit dengan tetralogi ini. Tidak berharap banyak karena belum pernah mendengar apapun tentang Helen Dunmore (mungkin karena referensi baca yang minim, hehe). Pun judulnya aneh Ingo. Apa artinya coba? Ya, tampaknya aku cukup dibuat penasaran. Dan euforia berhasil menemukan semua buku di tetralogi ini sepertinya lebih dominan menguasaiku ketika awal perjumpaan, hihi.
Aku mulai membaca buku pertamanya bulan Maret lalu. Ternyata aku bisa sangat larut ke dalam kisahnya. Helen memberikan deskripsi tentang Ingo yang menarik. Aku serasa ingin pergi ke sana, menjelajahi Ingo. Helen tidak hanya bercerita tentang petualangan bertabur fantasi saja melainkan juga mengajak pembaca untuk peduli dengan ekosistem laut, dengan hewan-hewan di dalamnya. Helen turut memperkenalkan sebuah warisan sejarah (pahatan putri duyung Zennor) yang memang ada di daratan Cornwall, Inggris sana. Kisah itulah yang mengilhami tetralogi Ingo ini secara umum, termasuk buku penutupnya yaitu The Crossing of Ingo ini.
Kisah petualangan kakak beradik, Sapphire dan Conor di Ingo kembali berlanjut. Sehabis banjir besar di St. Pirans, keluarga Trewhella kembali ke Senara dimana sudah jelas sangat dekat dengan teluk. Keinginan Sapphire untuk kembali ke Ingo sulit dikekang. Namun kali ini mereka kembali karena undangan yang datang kepada mereka. Ingo mengundang mereka untuk melakukan penyebrangan meskipun hanya kaum Mer (putri/putra duyung) yang biasa melakukannya. Penyebrangan ini penting mengingat kedamaian Ingo akan bermula dari sana. Pun dengan kedamaian antara Ingo dan Udara di hati Sapphire dan sedikit di hati Connor.
Tidak tersedia versi lain